Problema Kompetensi Menuju Professionalisme


Problema Kompetensi Menuju Professionalisme MEMBAHAS tema tentang kompetensi, tentunya oleh banyak pihak selalu dikaitkan dengan kecerdasan dan kepintaran. Padahal dalam makna yang sesungguhnya Kompetensi bukanlah sesempit itu. Dari sudut pandang lain, kompetensi sering dikaitkan tingkat atau level seseorang dari segi Knowledge (pengetahuan ) dan Skill (keahlian), atau artinya seringkali bilamana seseorang telah memiliki kemampuan dalam pengetahuan dan keahlian dibidang tertentu, juga sudah diberi status sebagai orang yang berkompeten. Lagi-lagi sebenarnya cakupan dan makna dari kompetensi itu tidaklah seperti itu. Kompetensi dalam bahasa sehari-hari sering digunakan untuk subjek orang yang memiliki kompetensi, disebut sebagai pihak yang berkompeten. Kompetensi memang berasal dari kata Kompeten, yang memang artinya secara umum adalah berkemampuan dalam bidang tertentu. Di Indonesia sudah diatur dalam suatu aturan yang disebut dengan kompetensi tersebut dan dibawah ini ada 4 definisi dan cakupan dari Kompetensi yang ditetapkan oleh Lembaga yang kredibel di Indonesia, adalah sebagai berikut:1) UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas penjelasan pasal 35 (1): "Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standard nasional yang telah disepakati". 2) UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan: pasal 1 (10): : "Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan". 3) Peraturan Pemerintah (PP) No. 23 Tahun 2004, tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP): sertifikasi kompetensi kerja sebagai suatu proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistimatis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi kerja nasional Indonesia dan atau Internasional. 4) Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Kompetensi adalah pernyataan tentang bagaimana sesorang dapat mendemontrasikan: keterampilan, pengetahuan dan sikapnya di tempat kerja sesuai dengan standar Industri atau sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh tempat kerja (industri). Dari 4 makna yang dipaparkan diatas, dalam membahas dan membicarakan kompetensi, maka ada 3 komponen yang mutlak tidak bisa lepas satu sama lainnya yaitu : 1) pengetahuan, 2) keterampilan, 3) sikap. Dengan demikian yang banyak terlupakan adalah komponen ke 3 yaitu sikap. Artinya bilamana seseorang yang sangat menguasai pengetahuan dan keterampilan saja, ternyata belum bisa diakui sebagai seseorang yang berkompeten. Ya memang sebutan untuk seseorang bisa disebut berkompeten tentunya dalam konteks yang positif. Bila digambarkan dalam suatu lingkaran irisan, maka kompetensi itu adalah titik temu lingkaran dari ketiga lingkaran dari pengetahuan , keterampilan dan sikap. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah bilamana seseorang telah meraih gelar pendidikan tertinggi yaitu pendidikan Strata 3 atau meraih gelar Doktor, bisakan secara otomatis disebut sebagai pihak yang berkompeten? Jelas jawabannya tidak. Seorang yang bergelar Doktor barulah memiliki 2 aspek yaitu pengetahuan dan keterampilan. Bilamana seseorang Doktor itu bisa disebut pihak atau orang yang berkompeten adalah juga memenuhi aspek kriteria Sikap. Sikap disini dalam arti, bisa menerapkan nilai-nilai dan norma-norma keilmuannya dan maupun dalam berkehidupan sehari-hari, sehingga pengetahuan dan keterampilannya tersebut dapat bermanfaat bagi lingkungan dan ataupun pihak yang berkaitan dengan aktifitas dan kehidupannya. Dengan adanya penjelasan diatas, dapat dipahami secara bersama, ternyata tidaklah mudah untuk menyebut atau menyatakan seseorang itu adalah orang yang berkompeten. Source From

Media Sosial