Profesionalisme: Jurus Jitu Bersaing dalam MEA


 Profesionalisme: Jurus Jitu Bersaing dalam MEA Pada akhir 2015 lalu, persaingan bursa tenaga kerja telah memasuki era baru dengan adanya pemberlakuan pasar bebas ASEAN. Pasar bebas ASEAN yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara. Secara lebih spesifik, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti pengacara, arsitek, dokter dan lainnya. Pada dasarnya, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diciptakan demi beragam manfaat. Salah satunya adalah menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan kesejahteraan 600 juta orang yang hidup di Asia Tenggara. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN dapat meningkatkan daya saing ASEAN dalam menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Pemberlakuan pasar bebas ASEAN juga sangat dibutuhkan untuk mengurangi kesenjangan antara negara-negara di ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota-anggota di dalamnya. Bagi Indonesia, berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi titik awal untuk mengembangkan berbagai kualitas perekonomian di kawasan Asia Tenggara dalam perkembangan pasar bebas. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan menjadi kesempatan yang sangat baik bagi tenaga kerja Indonesia karena dapat menyediakan lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan dan keahlian. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) juga menjadi kesempatan emas bagi para enterpreneur Indonesia untuk mencari sumber daya manusia terbaik di seluruh penjuru ASEAN. Berdasarkan manfaat-manfaat tersebut, terciptanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memberikan begitu banyak keuntungan bagi tenaga kerja di Indonesia. Namun pada sisi lain, dicanangkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) juga memiliki resiko tersendiri bagi tenaga kerja di Indonesia. Terbuka lebarnya kesempatan bagi seluruh tenaga kerja di penjuru ASEAN akan menciptakan kompetisi yang semakin ketat. Terlebih lagi sebagian besar tenaga kerja di Indonesia masih terhambat minimnya dukungan terhadap pendidikan tinggi serta kalahnya produktivitas dengan beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Salah satu cara untuk dapat bersaing dan sukses di tengah pasar bebas ASEAN adalah dengan meningkatkan kualitas diri. Kualitas diri itu sendiri meliputi kemampuan dalam mengasah keahlian serta etos profesionalisme dalam bekerja. Dalam KBBI, profesionalisme merujuk pada komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus menggunakan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Sikap profesionalisme yang ditunjukkan seorang pekerja dapat membuatnya lebih menonjol dibandingkan pekerja-pekerja lain. Cara paling sederhana dalam memulai etos profesionalisme dalam bekerja adalah dengan menunjukkannya pada penampilan Anda. Cara dalam berpakaian dapat mencerminkan sikap Anda terhadap kehidupan dan pekerjaan Anda. Pakar psikologi senior, Ratih Ibrahim mengatakan bahwa sudah bukan masanya menggunakan frasa lama “Jangan menilai buku dari sampulnya” karena pada kenyataannya penampilan Anda akan sangat menentukan impresi terhadap profesionalisme Anda. Langkah kedua dalam membangun etos profesionalisme kerja adalah dengan memilah urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. Mulailah mengesampingkan urusan pribadi Anda seperti keperluan membeli barang pribadi atau sekadar membayar tagihan listrik secara online pada saat jam kerja. Cobalah untuk hanya fokus pada pekerjaan Anda saat di kantor sehingga atasan Anda dapat semakin melihat dedikasi Anda terhadap pekerjaan. Terakhir, mulailah bekerja secara lebih sistematis. Cara tersebut dapat menghindarkan Anda dari pekerjaan yang tidak tuntas atau terabaikan sehingga Anda pun dapat menunjukkan bahwa Anda memiliki etos profesionalisme dalam bekerja. Source From Okezone.com

Media Sosial